Rabu, 31 Oktober 2012

SEJARAH KEPERAWATAN DI DUNIA DAN DI INDONESIA PERAN,FUNGSI DAN TUGAS PERAWAT



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko – sosial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh daur kehidupan manusia.
Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan keterampilan intelektual, keterampilan teknikal dan keterampilan interpersonal serta menggunakan proses keperawatan dalam membantu klien untuk mencapai tingkat kesehatan optimal.
B.     RUANG LINGKUP
Ø  Sejarah
Ø  Paradigma
Ø  Peran
Ø  Fungsi
Ø  Tugas
C.    TUJUAN
Ø  Mengetahui peran dalam keperawatan
Ø  Mengetahui sejarah dalam keperawatan
Ø  Mengetahui paradigma dalam keperawatan
Ø  Mengetahui fungsidalam proses keperawatan
Ø  Mengetahui tugas dalam melakukan asuhan keperawatan


BAB II
PEMBAHASAN
A.               Sejarah Keperawatan di Dunia dan di Indonesia
Perkembangan keperawatan di dunia dapat diawali pertama, sejak zaman manusia itu diciptakan (manusia itu ada) di mana pada dasarnya manusia diciptakan telah memiliki naluri untuk merawat diri sendiri sebagaimana tercermin pada seorang ibu. Naluri yang sederhana adalah memelihara kesehatan dalam hal ini adalah menyusui anaknya sehingga harapan pada awal perkembangan keperawatan, perawat harus memiliki naluri keibuan (mother instinct) kemudian bergeser ke zaman purba di mana pada zaman ini orang masih percaya pada sesuatu tentang adanya kekuatan mistis yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia, kepercayaan ini dikenal dengan nama animisme, dimana orang yang sakit dapat disebabkan karena kekuatan alam atau pengaruh kekuatan gaib sehingga timbul keyakinan bahwa jika yang jahat akan dapat menimbulkan kesakitan dan jiwa yang sehat dapat menimbulkan kesehatan atau kasejahteraan. Pada saat itu peran perawat sebagai ibu yang merawat keluarganya yang sakit dengan memberikan perawatan fisik serta mengobati penyakit dengan menghilangkan pengaruh jahat. Kemudian dilanjutkan dengan kepercayaan pada dewa-dewa di mana pada masa itu penyakit dianggap disebabkan karena kemarahan dewa sehingga kuil-kuil didirikan sebagai tempat pemujaan dan orang yang sakit meminta kesembuhan di kuil tersebut dengan bantuan priest physician. Setelah itu perkembangan keperawatan terus berubah dengan adanya diakones dan philantrop yang merupakan suatu kelompok wanita tua dan janda yang membantu pendeta dalam merawat orang sakit serta kelompok kasih sayang yang anggotanya menjauhkan diri dari keramaian dunia dan hidupnya ditujukan pada perawat orang yang sakit sehingga akhirnya berkembanglah rumah-rumah perawatan akhirnya mulailah awal perkembangan ilmu keperawatan.    
Kedua, zaman keagamaan, perkembangan keperawatan ini mulai bergeser kearah spiritual di mana seseorang yang sakit dapat disebabkan karena adanya dosa atau kutukan Tuhan. Pusat perawatan adalah tempat-tempat ibadah, sehingga pada waktu itu pemimpin agama dapat disebut sebagai tabib yang mengobati pasien karena ada anggapan yang mampu mengobati adalah pemimpin agama sedangkan pada waktu itu perawat dianggap sebagai budak yang hanya membantu dan bekerja atas perintah pemimpin agama.
Ketiga, zaman masehi, keperawatan dimulai pada saat perkembangan agama Nasrani di mana pada saat itu banyak membentuk diakones, (deaconesses), suatu organisasi wanita yang bertujuan untuk mengunjungi orang sakit sedangkan laki-laki diberikan tugas dalam memberikan perawatan untuk mengubur bagi yang meninggal, sehingga pada saat itu berdirilah rumah sakit di Roma seperti Monastic Hospital. Pada saat itu rumah sakit digunakan sebagai tempat merawat orang sakit, orang cacat, miskin dan yatim piatu. Pada saat itu pula di daratan benua Asia,khusunya di Timur Tengah, perkembangan keperawatan mulai maju seiring dengan perkembangan agama Islam. Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti ilmu pasti, kimia, kesehatan dan obat-obatan. Sebagaimana dalam Al Quran dituliskan pentingnya menjaga kebersihan diri, makanan, lingkungan dan lain-lain. Perkembangan tersebut melahirkan tokoh Islam dalam keperawatan yang dikenal dengan nama Rufaidah.
Keempat, zaman permulaan abad 21, pada permulaan abad ini perkembangan keperawatan berubah, tidak lagi dikaitkan dengan faktor keagamaan akan tetapi berubah kepada faktor kekuasaan, mengingat pada masa itu adalah masa perang dan terjadi eksplorasi alam sehingga pesatlah perkembangan pengetahuan. Pada masa itu tempat ibadah yang dahulu digunakan untuk merawat sekali tidak lagi digunakan.
Kelima, zaman sebelum perang dunia kedua, pada masa perang kedua ini timbul prinsip rasa cinta sesama manusia dimana saling membantu sesama manusia yang membutuhkan. Pada masa sebelum perang dunia kedua ini tokoh keperawatan Florence Naightingale (1820-1910) menyadarui adanya pentingnya suatu sekolah untuk mendidik para perawat. Florence Naightingale mempunyai pandangan bahwa dalam mengembangkan keperawatan perlu dipersiapkan pendidkan bagi perawat, ketentuan jam kerja perawat dan mempertimbangkan pendapat perawat. Usaha Florence adalah dengan menetapkan struktur dasar di pendidikan perawat diantaranya mendirikan sekolah perawat, menetapkan tujuan pendidikan perawat serta menetapkan pengetahuan yang harus dimiliki para calon perawat. Florence dalam merintis profesi keperawatan diawali dengan membantu para korban akibat perang krim (1854-1856) antara Roma dan Turki yang dirawat di sebuah barak rumah sakit (scutori) yang akhirnya mendirikan sebuah rumah sakit Thomas di London dan juga mendirikan sekolah perawatan dengan nama Nightingale Nursing School.
Keenam, masa selama perang dunia kedua, selama masa selama perang ini timbul tekanan bagi dunia pengetahuan dalam tindakan perawat mengingat penyakit dan korban perang yang beraneka ragam.
Ketujuh, masa pascaperang dunia dua, masa ini masih berdampak bagi masyarakat seperti adanya penderitaan yang panjang akibat perang dunia kedua, dan tuntutan perawat untuk meningkatkan masyarakat sejahtera semakin pesat. Sebagai contoh di Amerika, perkembangan keppentingnya kesehatan, pertambahan penduduk yang relatif tinggi sehingga menimbulkan masalah baru dalam pelayanan kesehatan, pertumbuhan ekonomi yang mempengaruhi pola tingkah laku individu, adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dengan diawali adanya penemuan-penemuan obat-obatan atau cara-cara untuk memberikan penyembuhan pada pasien, upaya-upaya dalam tindakan pelayanan kesehatan seperti pelayanan kuratif, preventif dan promotif dan juga terdapat kebijakan negara tentang peraturan sekolah perawat. Pada masa itu perkembangan perawatan dimulai adanya sifat pekerjaan yang semula bersifat individu bergeser ke arah pekerjaan yang bersifat tim. Pada tahun 1950, pada masa itu keperawatan sudah mulai menunjukkan perkembangan khususnya penataan pada system pendidikan. Hal tersebut terbukti di negara Amerika sudah dimulai pendidikan setingkat master dan doctoral. Kemudian penerapan proses keperawatan sudah mulai dikembangkan dengan memberikan pengertian bahwa perawatan adalah suatu proses, yang dimulai dari pengkajian, diagnosis keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi.
Sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia telah banyak dipengaruhi oleh kolonial penjajah diantaranya Jepang Belanda dan Inggris. Dalam perkembangannya di Indonesia dibagi menjadi dua masa diantaranya:
Pertama, masa sebelum kemerdekaan, pada masa itu Negara Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Perawat berasal dari Indonesia disebut sebagai verpleger dengan dibantu oleh zieken oppaser sebagai penjaga orang sakit, perawat tersebut pertama kali bekerja di rumah sakit Binnen Hospital yang terletak di Jakarta pada tahun 1799 yang ditugaskan untuk memelihara kesehatan  staf dan tentara Belanda, maka tidak diikuti perkembangan dalam keperawatan. Kemudian pada masa penjajahan Inggris yaitu Rafless, mereka memperhatikan kesehatan rakyat dengan moto kesehatan adalah milik manusia dan pada saat itu pula telah diadakan berbagai usaha dalam memelihara kesehatan diantaranya usaha pengadaan pencacaran secara umum, membenahi cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa dan memperhatikan kesehatan pada para tawanan.
Beberapa rumah sakit dibangun khususnya di Jakarta yaitu pada tahun 1819, didirikan rumah sakit Stadsverband, kemudian pada tahun 1919 rumah sakit tersebut pindah ke Salemba dan sekarang dikenal dengan nama RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), kemudian diikuti rumah sakit milik swasta. Pada tahun 1942-1945 terjadi kekalahan tentara sekutu dan kedatangan tentara Jepang. Perkembangan keperawatan mengalami kemunduran.
Kedua, masa setelah kemerdekaan, pada tahun 1949 telah banyak rumah sakit yang didirikan serta balai pengobatan dan dalam rngka memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan pada tahun 1952 didirikan sekolah perawat, kemudian pada tahun 1962 telah dibuka pendidikan keperawatan setara dengan diploma. Pada tahun 1982 untuk pertama kalinya dibuka pendidikan keperawatan setingkat dengan sarjana yang dilaksanakan di Universitas Indonesia dengan nama Program Studi Ilmu Keperawatan dan akhirya dengan berkembangnya Ilmu Keperawatan maka menjadi sebuah Fakultas Ilmu keperawatan dan beberapa tahun kemudian diikuti berdirinya pendidikan keperawatan setingkat S1 di berbagai universitas di Indonesia seperti di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan lain-lain. Pertumbuhan Profesionalisasi dalam Keperawatan.
Profesionalisasi adalah suatu proses menuju kea rah profesional. Dalam keperawatan proses tersebut diawali dari persepsi pekerjaan yang sifatnya vokasional menuju ke pekerjaan yang professional, demikian juga pendidikan yang dulunya yang bersifat vokasional kemudian bergeser ke arah pendidikan prefesional melaluipendidikan tinggi keperawatan.
Setelah lokakarya pada tahun 1983, proses menjadikan diri professional sudah mulai dirasakan dengan adanya proses pengakuan dari profesi lainnya. Dalam menuju pengakuan tersebut diperlukan langkah penting dalam penataan perawat menuju suatu profesi diantaranya;
v  Penataan  Pendidikan Keperawata
v  Penataan Praktek Keperawatan
v  Penataan Pendidikan Keperawatan
v  Penataan Pendidikan Berlanjut
B.    Paradigma
Banyak ahli yang membahas pegertian paradigma seperti Masterman (1970) yang mendefinisikan paradigma sebagai pandangan fundamental tentang persoalan dalam suatu cabang ilmu pengetahuan. Poerwanto P (1997) mengartikan paradigma sebagai suatu perangkat bantuan yang memiliki pola dan cara pandang dasar khas dalam melihat, mengenai, suatu kenyataan atau fenomena kehidupan manusia.
Keperawatan sebagai ilmu juga memiliki paradigma sendiri dan sampai saat ini paradigma keperawatan masih berdasarkan empat komponen yang diantaranya manusia, keperawatan, kesehatan dalam rentang sehat-sakit dan lingkungan. Sebagai disiplin ilmu, keperawatan akan selalu berkembang untuk mencapai profesi yang mandiri seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan sehingga paradigma keperawatan akan terus berkembang.
Keperawatan                                                              Kesehatan

                                                Manusia

                                             Lingkungan
Ganbar komponen paradigma keperawatan
Komponen paradigma keperawatan ini merupakan komponen pertama sebagai salah satu fokus dari pelayanan keperawatan. Manusia bertindak sebagai klien yang merupakan makhluk biopsikososial dan spiritual yang terjadi merupakan kesatuan dari aspek jasmani dan rohani yang memiliki sifat unik dengan kebutuhan yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat perkembangannya masing-masing (Konsorsium Ilmu Kesehatan, 1992). Manusia bertindak sebagai klien dalam konteks paradigma keperawatan ini bersifat individu, kelompok, dan masyarakat dalam suatu sistem. Sehingga dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya sering dipengaruhi oleh berbagai aspek baik lingkungan, kasehatan atau kebudayaan bangsa mengingat suatu bangsa memiliki pandangan yang berbeda. Sebagai klien yang bersifat individu, sasaran pemenuhan kebutuhan dasarnya adalah biopsikososial dan spiritualyang berbeda dengan individu lainnya. Karena itu diharapkan terjadi proses pemenuhan kebutuhan dasar kearah kemandirian. Kebutuhan dasar tersebut dapat meliputi kebutuhan fisiologis, keamananan dan kenyamanan, cinta mencintai, haarga diri dan aktualisasi diri. Sebagai klien yang bersifat keluarga, diartikan sebagai sekelompok individu atau kumpulan dari individu yang saling berhubungan dan berinteraksi satu dengan yang lain dalam lingkungan sendiri atau masyarakat, sehinggaa dalam memberikan perawatan selalu memandang aspek keluarga karena melalui keluarga ini akan dapat diketahui factor yang mempengaruhi masalah kesehatan agar tujuan perawatan dalam rangka membantu meningkatkan kemampuan keluarga untuk mampu menyelesaikan masalah (tugas) kesehatan secara mandiri dapat terpenuhi. Sebagai klien yang bersifat masyarakat, diartikan bahwa melalui masyarakat kemampuan individu dapat nudah dipengaruhi dengan adanya fasilitas pelayanan kesehatan, pendidikan, tempat rekreasi, transportasi, komunikasi, dan social juga, dengan adanya keyakinan yang kuat dari masyarakat sehingga pandangan masyarakat sangat diperlukan dalam proses perubahan untuk pemenuhan kebutuhan dasar.
Kemudian konsep manusia yang lain dalam paradigma keperawatan adalah manusia sebagai system, di mana manusia terdiri dari komponen subsistem yang telah membentuk suatu system. Sistem tersebut dapat meliputi system terbuka, system adaptif  dan system personal, interpersonal dan social yang secara umum dapat dikatakan sebagai makhluk holistic (utuh). Sebagai system terbuka, manusia dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan fisik, psikologis, social maupun spiritual sehingga proses perubahan pada manusia akan selalu terjadi khususnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Sebagi system adaptif, manusia akan merespons terhadap perubahan yang ada di lingkunganya yang akan selalau menunjukkan perilaku adaptif dan maladaptif. Apabila kemampuan merespons lingkungan tersebut baik, maka perilaku manusia akan menunjukkan perilaku adaptif, akan tetapi jika perilaku manusia kurang, maka perilaku manusia akan menunjukkan perilaku maladiftif.
Komponen yang kedua dalam paradigma keperawatan ini adalah konsep keperawatan. Konsep keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang bersifat professional dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, social dan spiritual) yang dapat ditujukan kepada individu, keuarga atau masyarakat dalam rentang sehat-sakit. Dengan demikian paradigm dalam konsep keperawatan memandang bahwa bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan kepada klien dalam bentuk pemberian asuhan keperawatan adalah dalam keadaan tidak mampu, tidak mau dan tidak tahu dalam proses pemenuhan kebutuhan dasar. Bentuk asuhan keperawatan tersebut berupa antara lain:
Pertama, bentuk asuhan keperawatan pada manusia sebagai klien yang memiliki ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar ini dapat diberikan melalui pelayanan keperawatan untuk meningkatkan atau memulikan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya khususnya kebutuhan fisiologis.
Kedua, bentuk asuhan keperawatan pada manusia sebagai klien yang mamiliki ketidak mauan dalam memenuhi kebutuhan dasar ini dapat diberikan melalui pelayanan keperawatan yang bersifat bantuan dalam pemberian dalam motivasi pada klien yang memiliki penurunan dalam kemauan sehingga diharapkan terjadi motivasi yang kuat untuk membangkitkan semangat hidup agat terjadi peningkatan. Pada proses pemenuhan kebutuhan dasar tindakan ini pada umumnya merupakan terapi psikologis yang dimiliki perawat dalam mengatasi masalah klien.
Ketiga, bentuk asuhan keperawatan pada manusia sebagai klien yang memiliki ketidak tahuan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia ini dapat diberikan melalui ketidak tahuan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia ini dapat diberikan melalui pelayanan keperawatan yang bersifat pemberian pengetahuan, yang berupa pendidikan kesehatan (health education) yang dapat dilakukan pada individu, keluarga atau masyarakat yang mempunyai pengetahuan yang rendah dalam tugas (masalah) parawatan kesehatan sehingga diharapkan dapat terjadi perubahan peningkatan kebutuhan dasar. 
                                               
C.      Peran Perawat
Definisi Peran Perawat

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang  sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu.
(Kozier Barbara, 1995:21).

Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung keperawatan secara professional sesuai dengan kode etik professional. Dimana setiap peran yang dinyatakan sebagai ciri terpisah demi untuk kejelasan.
Care Giver :
Pada peran ini perawat diharapkan mampu
1.      Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga , kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang kompleks.
2.      Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien, perawat harus memperhatikan klien berdasrkan kebutuhan significan dari klien. Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi diagnosis keperawatan mulai dari masalah fisik sampai pada masalah psikologi

D.    Elemen Peran

Menurut pendapat Doheny (1982) ada beberapa elemen peran perawat professional antara lain: care giver, client advocate, conselor, educator, collaborator, coordinator change agent, consultant dan interpersonal proses.
1.      Care Giver
Pada peran ini perawat diharapkan mampu memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah sederhana sampai pada yang kompleks.
2.      Client advokat
Pada peran ini tugas perawat ialah bertanggungjawab dalam  menginterpretasikan berbagai informasi dari berbagai pemberi pelayanan,atau informasi lain khususnya pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada pasien, dan mempertahankan serta melindungi hak-hak klien yang meliputi :
- Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
- Hak atas informasi tentang penyakitnya
- Hak atas privacy
- Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
- Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
3.      Counselor
Peran perawat berdasarkan hal ini adalah mengidentifikasikan perubahan pola interaksi klien terhadap keadaanya, memberi konseling dalam menginteraksikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang lalu, dan mengubah prilaku hidup sehat. Perannya :
a.       Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya.
b.       Perubahan pola interaksi merupakan “Dasar” dalam merencanakan metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya.
c.        Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada individu atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang lalu.
d.      Pemecahan masalah di fokuskan pada masalah keperawatan
4.  Educator
Peran perawat berdasarkan hal ini adalah membantu klien mempertinggi pengetahuan dalam upaya meningkatkan kesehatan, gejala penyakitnya sesuai kondisi dan tindakan yang spesifik.
5.      Collaborator
Perawat sebagai kolabolator dapat dilaksanakan dengan cara bekerja sama dengan tim kesehatan lain, baik perawat dengan dokter, perawat dengan ahli gizi, perawat dengan ahli radiology dan lain-lain dalam kaitannya membantu mempercepat proses penyembuhan klien.
6.      Coordinator
Peran perawat adalah:
a. mengarahkan
b. merencanakan
c. Mengorganisasikan
7.      Change agent (membawa perubahan/ pembaharuan)
Pembawa perubahan adalah seorang atau kelompok yang berinisiatif merubah atau yang membantu orang lain membuat perubahan pada dirinya atau pada system. (Kemp, 1986). Jadi peran di sini sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerja sama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.
8.      Consultant
Perawat berperan sebagai tempat konsultasi bagi pasien terhadap masalah yang di alami oleh pasien atas tindakan keperawatan yang tepat untuk di beerikan.
Peran Perawat Menurut Hasil Lokakarya Nasional 1983
Berdasarkan hasil lokakarya keperawatan tahun 1983 maka peran perawat di bagi menjadi 4 yaitu:
a. pelaksana pelayanan keperawatan
b. pengelola pelayanan keperawatan dari institusi pendidikan
c. pendidikan keperawatan
d. penelitian dan pengembangan keperawatan
E.    Fungsi perawat
Menurut Bertha Hammer dan Virginia Handerson (1995;1960), fungsi khas perawat ialah membantu individu, sakit atau sehat, melaksananakan kegiatan memulihkan atau mempertahankan kesehatan atau mendampingi si sakit menjelang akhir hayat. Fungsi ini dilakukan karena individu yang mendapatkan bantuan itu tidak dapat melaksanakan sendiri.
Fungsi perawat dalam melaksanakan perannya terbagi menjadi:
a.       Fungsi Independent
Merupakan fungsi mandiri & tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan untuk memenuhi KDM.
b.      Fungsi Dependent
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari perawat lain sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.
c.       Fungsi Interdependent
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan diantara tim satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim dalam pemebrian pelayanan. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya.

Berdasarkan Standar Departemen Kesehatan (1998) tanggung jawab peran perawat adalah sebagai:
1. Pendidikan Keperawatan
2. Pengelola Keperawatan
3. Peneliti Keperawatan
4. Pelaksana Pelayanan Keperawatan
Kiat keperawatan (nursing arts) lebih difokuskan pada kemampuan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti menggunakan kiat – kiat tertentu dalam upaya memberikan kenyaman dan kepuasan pada klien. Kiat – kiat itu adalah:
1)      Caring , menurut Watson (1979) ada sepuluh faktor dalam unsur – unsur karatif yaitu : nilai – nilai humanistic – altruistik, menanamkan semangat dan harapan, menumbuhkan kepekaan terhadap diri dan orang lain, mengembangkan ikap saling tolong menolong, mendorong dan menerima pengalaman ataupun perasaan baik atau buruk, mampu memecahkan masalah dan mandiri dalam pengambilan keputusan, prinsip belajar – mengajar, mendorong melindungi dan memperbaiki kondisi baik fisik, mental , sosiokultural dan spiritual, memenuhi kebutuhan dasr manusia, dan tanggap dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi.
2)      Sharing artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau berdiskusi dengan kliennya.
3)      Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat untuk meningkatkan rasa nyaman klien.
4)      Crying artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan kliennya.
5)      Touching artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis merupakan komunikasi simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994)
6)       Helping artinya perawat siap membantu dengan asuhan keperawatannya
7)      Believing in others artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat dan kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya.
8)       Learning artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan keterampilannya.
9)       Respecting artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain dengan menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak berhak mengetahuinya.
10)   Listening artinya mau mendengar keluhan kliennya
11)   Feeling artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan duka , senang, frustasi dan rasa puas klien.
12)   Accepting artinya perawat harus dapat menerima dirinya sendiri sebelum menerima orang lain
Sebagai suatu profesi , keperawatan memiliki unsur – unsur penting yang bertujuan mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan yaitu respon manusia sebagai fokus telaahan, kebutuhan dasar manusia sebagai lingkup garapan keperawatan dan kurang perawatan diri merupakan basis intervensi keperawatan baik akibat tuntutan akan kemandirian atau kurangnya kemampuan.
Keperawatan juga merupakan serangkaian kegiatan yang bersifat terapeutik atau kegiatan praktik keperawatan yang memiliki efek penyembuhan terhadap kesehatan.

F.    Tugas Perawat 

Perawat Tak Kalah dengan Dokter

Kompas.com - Kemampuan seorang perawat dalam pemberian terapi pengobatan pada pasien AIDS ternyata tak kalah dengan dokter. Hal tersebut tentu sangat bermanfaat, terutama dalam kondisi keterbatasan tenaga dokter.
Penelitian yang bertajuk "pergeseran tugas" dalam pemeliharaan HIV di Afrika Selatan menunjukkan, secara virtual tidak ada perbedaan hasil akhir pada pasien AIDS yang minum obat di bawah pengawasan perawat ataupun dokter.

Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan saat ini terdapat 33 juta orang di seluruh dunia yang terinfeksi HIV, virus penyebab AIDS. Sementara itu separuh dari total 9,5 juta orang yang butuh obat AIDS tidak bisa mendapatkannya.

Saat ini yang menjadi masalah adalah kurangnya tenaga kesehatan. Karena itu WHO baru-baru ini mengusulkan "pergeseran tugas" dari dokter pada tenaga kesehatan lain.

Untuk melihat apakah hal itu mungkin diterapkan, tim peneliti dari pusat riset internasional untuk AIDS di Afrika Selatan melakukan studi untuk membandingkan dampak perawatan yang dilakukan dokter dengan perawat.

Diketahui 48 persen pasien yang mendapat kan pengawasan dari perawat mengalami kesalahan. Jumlah itu hanya sedikit di bawah kesalahan yang dilakukan dokter, yakni 44 persen. Setelah dua tahun, angka kematian dan juga efek samping obat dari dua kelompok tenaga kesehatan itu tak berbeda.

Tugas perawat :                  

1.      Bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (inform concern) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya.

2.      Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan. Perawat adalah anggota tim kesehatan yang paling lama kontak dengan klien, sehingga diharapkan perawat harus mampu membela hak-hak klien. Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan termasuk didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien (Disparty, 1998 :140).

A.    Hak-Hak Klien antara lain :
·         Hak atas pelayanan yang sebaik-baiknya
·         Hak atas informasi tentang penyakitnya
·          Hak atas privacy
·          Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
·         Hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan.

B.     Hak-Hak Tenaga Kesehatan antara lain :
§  Hak atas informasi yang benar
§  Hak untuk bekerja sesuai standart
§  Hak untuk mengakhiri hubungan dengan klien
§  Hak untuk menolak tindakan yang kurang cocok
§   Hak atas rahasia pribadi
§   Hak atas balas jasa
Tugas perawat dalam menjalankan perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan ini sesuai hasil kesepakatan dalam lokakarya tahun 1993 yang berdasarkan fungsi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan adalah sebagai berikut:
a. Mengumpulkan data
b. Menganalisis dan menginterpretasikan data
c. Mengembangkan rencana tindakan keperawatan
Menggunakan dan menerapkan konsep-konsep dan prinsip ilmu prilaku, sosial budaya, ilmu biomedik dalam melaksanakan asuhan keperawatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia.
1.      Menentukan kriteria yang dapat diukur dalam menilai rencana keperawatan
2.      Menilai tingkat pencapaian tujuan
3.      Mengidentifikasi perubahan- perubahan yang diperlukan
4.      Mengevaluasi data permasalahan keperawatan
5.      Mencatat data dalam proses keperawatan
6.      Menggunakan catatan klien untuk memonitor kualitas asuhan keperawatan.
7.      Menerapkan keterampilan manajemen dalam keperawatan klien secara menyeluruh


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Perawat memiliki Peran yang berarti seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang  sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu. Memiliki fungsi fungsi yaitu membantu individu, sakit atau sehat, melaksananakan kegiatan memulihkan atau mempertahankan kesehatan atau mendampingi si sakit menjelang akhir hayat dan bertugas membantu melakukan tindakan asuhan keperawatan

B.     SARAN
Setelah mengetahui berbagai sejarah, paradigm, peran, fungsi dan tugas dari perawat mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan mengaplikasikanya dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar